Karsten dan Kontribusinya
Kontribusi
Karsten berkaitan dengan praktek perencanaan kota dan prinsip-prinsip
arsitektur di Indonesia. Karsten mengembangkan gagasan mengenai proses
dan upaya mengembangkan wacana ilmiah baru dan visi sosial untuk Hindia
Belanda saat itu. Gagasan Karsten terutama tumbuh karena ideologi yang
dianutnya, yang kemudian ia terjemahkan ke dalam arsitektur. Karsten
merupakan salah satu tokoh yang melihat ruang kota dalam konteks yang
lebih liberal, berbeda dengan pandangan yang berkembang saat itu,
kolonial konservatif. Sentuhan budaya lokal pun merupakan ciri khas
Karsten. Ia memberikan pandangan mengenai upaya reformasi untuk
memodernisasi masyarakat Hindia Belanda melalui arsitektur, terutama
perumahan.
Meskipun
tidak dilatih sebagai perencana kota, Karsten memiliki kepekaan yang
sangat tinggi terhadap persoalan-persoalan perkotaan, melewati batas
pengkotakkan menurut ras.Kasus pertama yang dihadapi oleh Karsten adalah
bagaimana merencanakan Kota Semarang. Pada masa itu (tahun 1914), Kota
Semarang menglami persoalan menyangkut saluran air kotor, saluran air
bersih, perumahan dan sanitasi.Bersama dengan Plate, kepala Departemen
Pekerjaan Umum Kota Semarang, Karsten menekankan rencana kota melalui
integrasi estetis, kepraktisan, dan persyaratan sosial yang dapat
diterima seluruh kelompok masyarakat.
Terkait
dengan gagasan kolonialisme yang berkembang saat itu, seluruh komponen
sosial diterjemahkan ke dalam bentuk pertentangan. Perencanaan kota
kolonial dimplementasikan secara terperinci melalui tatanan hubungan
antara berbagai penduduk kota, baik secara etnis, ras, maupun ekonomi.
Karsten secara tegas menolak gagasan yang demikian dan memulai suatu
proses yang memungkinkan elemen-elemen lokal untuk beriteraksi dengan
lemen-elemen kolonial.
Dalam merencanakan public housing atau volkshuisvesting,
pengaruh kolonial sangat dominan membentukan pembentukan lanskap kota,
sehingga dalam konteks ini perhatian Karsten diarahkan bagi pengembangan
perumahan yang memecahkan “masalah-masalah” kolonial (seperti dominasi
rumah tinggal bagi warga Eropa, kepemilikan lahan, dll), perbaikan
budaya, dan kesehatan. Pada tahun 1971, Karsten merencanakan Candi Baru,
sebagai perluasan dari rencana Semarang yang ada dengan mengakomodasi
seluruh kelompok etnis menurut kebiasaan masing-masing. Di Yogyakarta
dan Solo, Karsten merencanakan bangunan pasar untuk mengorganisasikan
pedagang-pedagang kecil. Karsten juga menghasilkan rencana induk untuk
kota-kota di pinggiran Batavia, termasuk pula di pusat kotanya.
Pada tahun 1921, Thomas Karsten mempresentasikan makalah Indies Town Planning
di Kongres Desentralisasi. Makalah ini dapat dianggap sangat radikal
pada waktu itu. Karsten berpendapat bahwa perencanaan kota merupakan
aktivitas yang saling terkait (sosial, teknologi, ekonomi, dll.) yang
harus dipertimbangkan bagi terciptanya keselasaran lingkungan perkotaan.
Gagasan Karsten untuk pendekatan metodologis adalah untuk menciptakan
rencana kota organis dengan dimensi sosial yang dapat diterima di Hindia
Belanda, begitu juga di Belanda.Makalah yang disampaikan oleh Karsten memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perencanaan public housing, seperti pedoman kota bagi perluasan perkotaan dan perumahan (1926), prioritas hak atas lahan (1926), dan penyediaan 50% subsidi dalam proyek perbaikan kampung. Tahun 1930, Thomas Karsten bergabung dengan arsitek ternama, politisi, dan birokrat untuk menduduki Town Planning Committee. Komite ini memproduksi rancangan Town Planning Ordinance pada tahun 1938 yang diperuntukan bagi peraturan perencanaan kota, terutama dalam hal mengorganisasikan bangunan dan konstruksi dengan karakteristik sosial dan geografis dan pertumbuhan yang diinginkan. Rencana ini akhirnya tidak mampu diwujudkan karena dimulainya Perang Dunia II.
Kehidupan Karsten: Pandangan Sosial Politik yang Mempengaruhi
Thomas
Karsten berasal dari keluarga ningrat. Ayahnya adalah seorang profesor
filsafat yang sekaligus adalah seorang wakil rektor. Hal ini yang
menyebabkan ia memiliki pandangan yang sangat moderat. Menurut Bogaers
(1983) yang menulis biografinya, Karsten adalah seorang yang secara
sosial sangat sulit bergaul dan termasuk penyendiri.
Karsten
bersekolah di Delf Polytechnische School, dengan mendaftar pada bidang
teknik mesin. Dari makalah yang diajukan oleh temannya, Henry Maclaine
Pont, fakultas merubah landasan filosofis dan intelektual ketika ia
bersekolah disana. Mahasiswa tidak hanya dapat mengajukan proposal
kurikulum kepada fakultas, melainkan pula terlibat dalam asosiasi
kemahasiswaan ‘Practishe Studie’ (practical study)
untuk mendorong aplikasi praktis dari studi teoritis. Keterlibatan dalam
asosiasi ini menciptakan jalan hidupnya kemudian. Karsten memiliki
perasaan antipati terhadap peradaban Barat yang berlangsung mulai tahun
1920. Ia pun bertekad untuk ‘kembali’ (karena sesungguhnya ia dilahirkan
di Jawa) ke Jawa atas undangan temannya, yaitu Henry Maclaine Pont,
untuk membantu perusahaan arsitektur yang dimiliki.
Selama
empat tahun, tahun 1948, Karsten berhasil mengembangkan sekelompok
prinsip-prinsip yang membentuk dasar dari karirnya sebagai perencana
kota. Falsfah dasar hidup Karsten dibentuk di Belanda sebelum ia pergi
ke Jawa. Kondisi sosial ekonomi yang beragam pada awal abad ke-20
menyebabkan ia memiliki semacam latihan untuk merenungkan kondisi kota
kolonial. Dengan mengesampingkan pendidikan yang ia tempuh sebelumnya,
Karsten adalah anggota Sociaal Technische Vereeniging, sebuah
organisasi profesional yang progresif dan beorientasi terhadap reformasi
sosial. Di Amsterdam sendiri, Karsten aktif terlibat dalam debat terkait
perencanaan perumahan publik. Karsten pun berteman dengan kelas
menengah yang sangat aktif dalam berpolitik (saat itu, Amsterdam
merupakan ‘surga’ bagi berkumpulnya intelektual sosialis) yang turut
membangun landasan radikal di dalam dirinya. Sebelum pergi ke Jawa,
Karsten berkontribusi setidaknya satu laporan perencanaan kota yang
signifikan di Belanda berjudul the Volkshuisvesting in de Niuewe Stad de Amsterdam (1909).
Di
Jawa, Karsten bekerja di perusahan Maclaine Pont di Semarang. Ia
menemkan dirinya berada dalam lingkungan sosial dan ideologis yang
menekan. Konteks masalah perkotaan saat itu sangat kompleks. Kesenjangan
sosial dimanifestasikan ke dalam kelas sosial sebagaimana halnya ras,
di dalam maupun di antaranya kelompok-kelompok tersebut. Secara cepat
Karsten mulai terlibat dalam jalinan intrik hirarki kolonial dan
lingkungan sosial budaya saat itu. Namun, Karsten mampu menempatkan diri
di tengah-tengah yang nantinya akan sangat mendukung bagi upaya
mentransformasi kehidupan sosial budaya masyarakat melalui arsitektur.
Prinsip Perencanaan Karsten
Secara
umum, perhatian Karsten diarahkan kepada bagaimana merekonsiliasi
pertentangan tatanan: perbedaan antara Jawa dan Eropa, begitu juga Cina
sebagaimana halnya masyarakat Jawa tradisional dan masyarakat Jawa
perkotaan yang kelas menengah. Di dalam peraturan bangunan Buitenzorg
(sekarang Bogor), atau disebut Locale Belangen, Karsten menulis sebagai berikut
“[t]he
problem was – and is – always the great variation in the buildings that
need to be regulated; that extends from intense building (even if not
consisting yet of many storeys) to extensive landholdings in the outer
suburbs, encompassing both the most modern construction methods and the
simplest desa homes, and all differentiated according to the completely
different living styles and level of economic development of three,
sharply separated races. And, apart from the fact that all these
variations have to developed separately as regard technical regulations,
is the need to prevent the constantly occurring danger of disorganized
intermingling which, from both technical and hygienic, as well as from
social and aesthetic reasons is unacceptable.”
Solusi
yang ditawarkan oleh Karsten merupakan kombinasi dari berbagai
pengendalian – pemahaman terhadap sejumlah perbedaan bentuk - di
dalam keseluruhan rencana. Karsten juga menemukan cara untuk mengatasi
perbedaan ini melalui pemisahan ras menurut zona atau distrik maupun
kelas atau tipe bangunan. Hal inilah yang kemudian membangun prinsip
ilmiah dari perencanaan kota. Perencana kota dapat memahami perbedaan
kelompok sosial dan nilai yang dianut masing-masing, sembari mencoba
untuk lebih fleksibel terhadap perubahan gradual. Disini Karsten
memperkenalkan, apa yang disebut oleh Cote (2004), sebagai cultural pedagogy
– melalui konsep ini, arsitektur berkontribusi terhadap emansipasi
budaya dalam memodernkan lingkungan kota kolonial.Dalam pandangan
Karsten, sebuah bentuk kota yang baik merupakan kombinasi makna sosial
dan spiritual secara umum, yang dalam konteks rumah, seharusnya
mengekspresikan perasaan sosial dan individu yang bernilai bagi
penghuninya.
Penutup: Refleksi Singkat
Thomas
Karsten merupakan tokoh utama dalam perencanaan kota di Indonesia. Ia
memberikan landasan bagi perencanaan kota selanjutnya di Indonesia.
Pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran perencanaan kota, muncul
dari gagasannya yang sangat radikal di kalangan masyarakat kolonial saat
itu. Karsten mencoba untuk mengintegrasikan elemen-elemen lokal dan
kolonial ke dalam lingkungan perkotaan, serta mencoba mentransformasikan
kehidupan masyarakat Jawa tradisional ke dalam lingkungan sosial
kolonial yang modern.
Sayang
sekali, saat ini rencana kota kita sedikit sekali memiliki landasan
ideologis yang kuat seperti yang dicerminkan dalam pemikiran Karsten.
Rencana kota pun lebih beorientasi kepada pemecahan persoalan perkotaan
yang seringkali fragmented, ketimbang membantu masyarakat untuk
melakukan transformasi sosial budaya yang diharapkan. Terdapat
kecenderungan bahwa perencanaan kota telah semakin mekanistik dengan
menekankan kepada prosedur yang harus dilalui oleh perencana. Sementara
itu, hal-hal mendasar menyangkut visi dan misi bagi perubahan masyarakat
sangat jarang sekali disentuh.
Prinsip
perencanaan kota oleh Karsten jelas menampakkan posisi keberpihakan
perencana terhadap kelompok sosial tertentu, terutama yang
dimarjinalkan, meskipun muncul secara samar-samar. Karsten melihat
adanya persoalan struktural yang melingkupi masyarakat jajahan, sehingga
arsitektur menjadi instrumen yang turut mendorong emansipasi sosial
masyarakat jajahan. Pada saat itu, gagasan ini memang mendapatkan ‘angin
segar’ melalui Politik Etis maupun UU Desentralisasi saat itu.
Karsten-lah yang kemudian menerjemahkannya ke dalam perencanaan
kota-kota di Indonesia.
sumber : http://gedebudi.wordpress.com/2008/12/01/kontribusi-thomas-karsten-bagi-perencanaan-kota-di-indonesia-refleksi-bagi-perencana-kota/