Di kampusku tercinta, jurusan planologi
adalah jurusan yang terbelakangi…bahkan lebih parahnya ada juga anak ITM sama
sekali tidak pernah mengetahui tentang jurusan awak ne… weleh…weleh…weleh…
sedih kali awak nie… tapi ada keuntungannya juga kalo jurusan plano itu hanya
sedikit yang mengetahui… biar nggak banyak saingan… heheheheheheh….
Oke…. Itu hanya sekedar curhat…ciehhhhh….
Curhat nggak karuan…wkwkwkwk
Well, sampai detik ini, disaat aku udah semester 5, masih
adaaaaaa aja yang nggak tahu apa itu PWK, dan yang lebih parah lagi ada juga
yang masih mengartikan planologi sebagai ilmu pemuliaan tamanan. Poor
guy...-kalo kata ane, bukan poor guy, tapi village-
Hahaha, dunia
per-planologi-an galau mendengar fakta tersebut!
Perencanaan
Wilayah dan Kota adalah salah satu jurusan di fakultas teknik yang uhm...nggak
terlalu teknik….karna
duduknya sering di kantor kali ya? Heheheheh….. lebay dikit dah….
Di PWK, kami
diajari caranya menjadi seorang bos, seorang detektif, seorang buruh ketik,
seorang tukang peta, seorang manusia yang bawaannya hobi dilepasin di alam
bebas dan suruh kerja sesuai insting buat mencari mangsa –hahaha, kerja
lapangan maksudnya-, sorang analyst, seorang stakeholder, sekaligus
sebagai seorang reporter. Dikantonya banyak daftar proyek-proyek
yang lumayan menggiurkan….wkwkwkwkwkwkwkwkwk
Mencengangkan
bukan?
Saya sendiri juga
tercengang dengan tulisan yang saya buat. #nangis terharu
Oke. Sebenernya
Planner cuma punya satu misi sih. Perencanaan Wilayah dan kota merupakan ilmu
yang digunakan untuk manfaatkan ruang secara optimal dan mengendalikan
pemanfaatan tersebut. Hanya saja, untuk menghasilkan sebuah produk penataan
ruang yang baik, banyak hal yang harus Planner lakukan.
Pertama Planner
harus memahami kondisi fisik, bentang alam, kondisi sosial-budaya,
kependudukan, dan tingkat perkembangan dari wilayah yang akan direncanakan.
Disinilah peran Planner sebagai seorang detektif dibutuhkan. Untuk
mengetahui seluk-beluk kondisi wilayah, planner diharuskan mengumpulkan semua
data dan dokumen penting sesuai dengan infromasi yang dibutuhkan. Data potensi
sumberdaya, potensi bencana, topografi, geomorfologi, sejarah kebencanaan, data
kependudukan, sosial, perekonomian, budaya khas, sejarah dan mitos, dan
sebagainya. Yaaa...seperti yang udah aku bilang, kayak Detektif.
Yah...kalau mau
dapet gambaran yang lebih keren, Coba bayangkan film-film sci-fi dimana bintang
utamanya –yang biasanya cakep banget- nggak jauh-jauh dari yang namanya
teknologi modern untuk memperoleh informasi yang nggak bisa didapatkan oleh
sembarang orang. Kerennnn!!!!
#ngangkat empat
jempol
Setelah itu,
langkah berikutnya dijalankan.
Planner berperan
sebagai buruh ketik.
Kenapa buruh
ketik?, karena Indonesia jaman dahulu sangat suka menulis data dengan mesin
purba bernama alat ketik manual yang sumpah.itu.nyiksa.banget!!! belom lagi
kalau ketikan dibuat diatas kertas buram yang kalau udah tersimpan selama
20 tahun langsung rapuh nggak ketulungan dan warnanya udah coklat-coklat nggak
karuan.
Sebelum masuk ke
tahap selanjutnya, semua data harus diinput untuk dijadikan satu dalam database
proyek yang akan dijalankan. Nah...setelah semua data sudah terkomputerisasikan,
saatnya Planner mengganti baju dan berubah menjadi...Analyst, yeah!!!!
Planner berperan
sebagai seorang Analyst. Semua data yang didapatkan diolah, beri sedikit
tambahan sayur, cicipi, aduk merata, lalu tiriskan, dan tinggal disajikan
disaat masih hangat, akan lebih enak bila disantap dengan kecap. Itulah mie
goreng!, lalu kenapa saya bahas mie goreng?, oh...saya ingat saya lapar, tapi
ini saatnya serius jadi,
Oke, balik ke
urusan Planner sebagai Analyst.
Data selalu
bercerita, jiah.... Setelah semua data diperoleh, saatnya untuk menganalisa
informasi yang didapatkan dari curhatan sang data. Melalui analisa, akan
didapatkan tren, kecenderungan, dinamika, dan sebangsanya. Produk yang
dihasilkan dari semua analisa ini akan menjadi dasar dari penyusunan rencana
tata ruang yang akan dibuat. Informasi pola pemanfaatan ruang, Pola sebaran
penduduk, tren kelahiran-kematian, dominasi mata pencaharian, kualitas
hidup, tingkat kesejahteraan masyarakat, ketersediaan infrastruktur, potensi
bencana alam, kondisi lingkungan.
Nah disini,
planner sebagai analyst memanipulasi sumberdaya dari disiplin ilmu yang lain,
antara lain ilmu anak-anak ekonomi, geologi, dan sosial. Planner membutuhkan
standar-standar yang telah dibuat oleh kerja keras ahli dari disiplin ilmu2 tersebut
untuk analisa dan mengambil kesimpulan tentang kondisi suatu wilayah.
Tahap yang lebih
jauh, planner merangkap sebagai tukang peta karena planner tidak bisa hidup
tanpa peta, namun peta yang sangat tidak biasa. Kita pakai permisalan seorang
cewek...kebanyakan cewek sangat mencintai baju, namun dengan spesifikasi
bentuk, warna dan desain yang kadang bisa susah banget untuk diwujudkan oleh
pabrik konveksi, oleh karena itu kini butik dan desainer baju banyak
bermunculan untuk memenuhi permintaan unik dari sang konsumen. Dan disini,
berhubung nggak ada butik peta yang bisa memberikan peta-peta yang diinginkan
seorang planner yang jenisnya memang bukan peta yang lazim seperti peta pola
kelahiran-kematian misalnya, maka saatnya memenuhi kebutuhan sendiri dengan
menjadi produsen dari peta yang dibutuhkan.
Tapi
tenang...planner nggak secanggih itu. Planner memang seorang tukang peta namun
bukanlah pembuat peta dari nol. Disini kami membutuhkan bantuan dari anak-anak
geografi untuk menyediakan bahan dasarnya. Yaitu peta yang biasa yang nantinya
akan diubah menjadi sangat tidak biasa oleh planner, wkwkwk.
Dan untuk
memastikan kebenaran informasi, saatnya untuk berkeliaran di lapangan sebagai
surveyor. Time to nge’Bolang’ mennnnn!!!!
Bermodalkan peta
ditangan, hasil analisa diotak, permen dikantong dan muka cakep –yang ini cuma
‘kalo bisa’- Planner turun ke lapangan. Saatnya survey langsung kondisi fisik
dan wawancara untuk pencocokan data dengan kondisi nyata. Survey merupakan satu
bagian paling asik di perencanaan, selain bisa jalan-jalan untuk mengunjungi
tempat-tempat yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya, melakukan survey juga
membuat kita lebih dekat dengan masyarakat dari wilayah yang akan kita obrak-abrik
kembangkan. Yeah...meskipun pada faktanya kita sering dikira mau menggusur
rumah orang karena suka mengeluarkan gelagat nggak lazim seperti mengukur lebar
persil rumah orang, menghitung tren ketinggian bangunan dan sesekali keliatan
ngeluarin peta seperti orang lagi berburu harta karun, namun itu malah jadi
semacam tantangan untuk belajar jadi stakeholder untuk memberi penjelasan dan
pemahaman pada masyarakat tentang tujuan ‘lurus’ kami.
Saat survey, ada
satu lagi peran yang nggak kalah asik, yaitu sebagai reporter. Ada kalanya kami
seperti sedang main dalam sebuah adegan film aksi dimana kami diancam oleh
oknum yang melakukan penyalah-gunaan lahan seperti misalnya nih ya...saat
survey kami menemukan kawasan tambang yang seharusnya sesuai dengan analisa
kami area tersebut dimanfaatkan sebagai kawasan lindung. Jadi deh...saat kami
berusaha mengorek informasi, kami dicurigai dan diperlakukan seperti seorang
mata-mata (padahal saat itu kami pake kostum surveyor ngegembel gitu dan bukan
kostum detektif loh. Ah mereka nggak tahu bedanya gembel sama detektip).
Kami diancam-ancam, diusir-usir, dikasih segepok duwit –ya enggak lah-.
Mendebarkan pokoknyaaaaaaaa
Dan
terakhir...Planner sebagai Planner. Yep, bener...saatnya menjadi seorang
perencana. Setelah merasa cukup dengan informasi yang diperoleh. Saatnya untuk
menyusun skenario pengembangan. Langkah yang diambil adalah dengan membuat
tujuan dari pengembangan yang akan dicapai. Setelah tujuan udah dirumuskan,
saatnya memilah-milah analisa yang sudah dilakukan, mengelompokkan apa potensi
sumber daya wilayah yang dapat mendukung tujuan kita dan disisi lain juga
mempertimbangkan potensi masalah yang dapat menghambat tujuan.
Langkah
selanjutnya adalah menyusun strategi untuk mewujudkan tujuan yang ingin
dicapai.
Misalnya kita
memutuskan bahwa wilayah A akan kita kembangkan menjadi agropolitan, maka
strategi yang akan kita ambil harus segera di list, misalnya dengan
menemukan sumber air yang baru untuk pengairan, mencari jalur pemasaran,
memperbaiki infrastruktur untuk memudahkan ditribusi produk pertanian, membuka
industri pengolahan, menemukan teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah
lingkungan. Disinilah saat Planner menjadi bos...
Karena bos tidak
bisa menjadi bos tanpa bawahan yang merupakan patner kerjanya. Untuk menjadikan
semua strategi tersebut terlaksana, Planner membutuhkan ahli geologi, ahli
ekonomi, ahli transportasi, ahli pertanian, ahli mekanika, dan ahli-ahli yang
lain untuk diajak bekerja bersama.
Yang diatas itu
bahkan baru satu skenario perencanaan, belum lagi dengan skenario lain,
misalnya bukan lagi konsep agropolitan, melainkan Bussines district
center, atau pariwisata, atau superblock –itu tuh yang suka diiklanin di metro
tiap minggu-. Kesimpulannya...Planner itu harus cakep –apaan si?-, hehe, coret.
Tepatnya planner itu penghubung antar disiplin ilmu.
Itulah Wajah
Seorang Planner...
Salam Plano….
Plano…
Plano…
Plano…
ITM BERSATU…..